Problem solving ala Prabowo Subianto — dari persoalan nyata rakyat menuju solusi yang cepat, tepat, dan tuntas.
Buku ini berangkat dari satu kesimpulan yang diambil setelah para penulis ratusan kali mengikuti rapat kabinet: kepemimpinan adalah kemampuan menghadirkan solusi. Rakyat tidak hanya membutuhkan visi, tetapi tindakan nyata yang cepat, tepat, dan berdampak langsung.
Kerangkanya sederhana — apa masalah yang dihadapi, apa solusi yang diambil, dan hasil yang dicapai dalam waktu relatif cepat. Persoalan yang selama bertahun-tahun tertunda kini berstatus PS alias Problem Solved.
Fokusnya bukan siapa yang menang atau kalah, melainkan persoalan apa yang berhasil diselesaikan. Petani membutuhkan air, nelayan membutuhkan solar, pelajar membutuhkan sekolah yang lebih baik — ukuran pemerintahan adalah manfaat nyata yang dirasakan rakyat.
Alih-alih opini, buku ini mengumpulkan data, angka, program, dan hasil yang dapat diverifikasi. Pembaca tidak dituntut untuk setuju, melainkan diajak memeriksa, membandingkan, dan mengevaluasi.
Seperti Ted Sorensen yang merasa punya obligation to history, para penulis mencatat 108 persoalan dan penyelesaiannya sebagai titik awal evaluasi — agar publik kelak dapat menilai apakah solusinya benar-benar berhasil.
NTP mengukur daya beli petani. Setelah penetapan HPP gabah Rp 6.500/kg, bantuan pompa, dan penyederhanaan pupuk, NTP mencapai 125,35 pada 2026 — tertinggi dalam 34 tahun. Arahkan kursor ke titik untuk detail.
Untuk delapan komoditas utama, ketersediaan melampaui kebutuhan hingga Juni 2026 — menghasilkan surplus. Bar menunjukkan proporsi kebutuhan dan surplus; angka absolut dalam ribu ton.
Bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 16,32% dari energy mix nasional pada 2025, dengan target 45–46% pada 2045. Arahkan kursor ke segmen atau legenda.
Buku Presiden Solusi mengungkap bahwa tugas utama seorang Presiden Republik Indonesia adalah menjadi panglima tertinggi pemecah masalah — problem solver in chief.
Intinya adalah keberanian menghadapi akar persoalan, pencarian solusi sistemik lintas sektor yang berbasis praktik terbaik, serta komitmen penyelesaian segera — bukan penyelesaian nanti-nanti. Menariknya, banyak solusi bukanlah program baru, melainkan keberanian menyederhanakan birokrasi yang berbelit dan mengambil keputusan yang selama bertahun-tahun tertunda.
“Dari beliau, saya belajar pemimpin harus turun ke lapangan dan langsung memberikan solusi atas persoalan yang ada.”— Prabowo Subianto, tentang Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf
Pendiri Indo Barometer dan analis opini publik. S-1 Psikologi Sosial UI, S-2 University of Essex, dan Doktor Ilmu Politik UGM (2016). Sebelumnya Kepala Staf Kepresidenan.
Penulis dan penyunting buku tentang transformasi ekonomi dan strategi. S-1 Ilmu Politik & Media dari Universitas Melbourne. Mendampingi Prabowo sejak 2012.
Lulusan SMA Taruna Nusantara dan Virginia Military Institute (AS). Mantan perwira Kopassus TNI AD sebelum menjadi asisten pribadi.